Different of this December
“So this is me swallowing my pride. Standing in front of you saying, I’m sorry for that night. And I go back to December all the time.” -Back to december - Taylor Swift
Desember. Sudah datang lagi, mengetuk dan mengingatkan semua kenangan yang sebenarnya harus segera dilupakan. Dia bukan lagi menjadi segalanya setelah 4 bulan sebelumnya merusak dan mengantah berantahkan semua rasa yang aku miliki. Tidak seperti desember sebelum-sebelumnya yang selalu ada dan membuatku tertawa ataupun menangis. Aku sendiri, benar-benar sendiri ditengah semua kebisingan dan kebencian yang kadang mendarah daging dan berujung pada dendam. Tidak ada yang kekal kecuali Tuhan, begitupun perasaan. Bahkan batu sekeras bajapun bisa terkikis oleh setetes air yang bersabar pada waktu, kenapa aku tidak?
Desember begitu berharganya dia, desember begitu sangat inginnya aku melindunginya. Bahkan dari hujan pun aku takut kehilangannya. Desember adalah waktu yang sangat berharga bersamanya, sedikitpun aku tidak pernah ingin melepasnya, diam dibibirnya atau sekedar memeluknya sampai dia tertidur. Karena dia aku bisa merasakan detak jantungku dan sadar bahwa aku hidup. Karena dia membuat perutku seakan-akan penuh dengan kupu-kupu yang terbang kesana kemari.
“It turns out freedom ain’t nothing but missing you. Wishing I’d realized what I had when you were mine. I’d go back to December, turn around and make it all right. I go back to December all the time” -Back to december - Taylor Swift
Tapi desember tahun ini sudah berbeda, seperti bunga yang layu dan bahkan tanpa sedikitpun dorongan angin yang seharusnya membuatnya benar-benar jatuh, ataupun matahari yang membuatnya wangi kembali. benar-benar seperti menggantung dan tidak tau akan memilih apa. aku tersesat diantara kebutaan mencintai dan kesadaran akan membenci.
Dia sudah memilih rumah lain untuk persinggahannya, dan aku hanya menjadi rumah kosong yang berdebu karna dia meninggalkannya dengan sangat tidak manusiawi. membiarkan aku dibawah bayang-bayang membenci diri sendiri. tapi sesungguhnya aku tidak pernah sekalipun menyesali pernah memiliki dia seutuhnya.
Suatu saat akan tiba saatnya untuk perasaanku utuh kembali, membentuk benteng dan yakin akan cinta lagi. tapi mungkin tidak lagi dengannya. Aku hanya ingin dia sadar dan tau, akulah orang yang pertama kali dan mungkin selalu mencintai dia, hidup dan matinya. senang dan sedihnya. rasa dan hatinya. benci dan dendamnya. tawa dan tangisnya. senyum dan gelisahnya. dan semua yang ada pada dirinya. mungkin waktu yang akan menyadarkan dia, dan mungkin saat itu aku sudah tidak lagi menghirup nafas pada rumah kosong yang selalu menunggu kedatangannya kembali.
Waktu, aku punya waktu. aku tau dia sangat membenciku, biarlah waktu yang menghapus benciku dan bencinya. biarlah waktu yang menyadarkannya bahwa orang ini, yang sekarang dia benci setengah hidupnya adalah orang yang selalu ingin meyakinkannya bahwa aku selalu ingin menjadi butuhnya. selalu ingin menjadi lelahnya, bahkan bencinya.
“Maybe this is wishful thinking, Probably mindless dreaming, But if we loved again, I swear I’d love you right.” - back to december - taylor swift
Aku tidak pernah bisa benar-benar melupakannya. karna aku dan dia mengenalpun bukan untuk saling melupakan. rumah barunya sangatlah nyaman dan membenci keberadaanku sehingga dia menjauh dariku. menutup semua jalanku untuk sesekali melihatnya tersenyum. tak apa, aku tidak membutuhkannnya lagi. dia sudah cukup banyak senyum dengan rumah barunya itu.
Dan dilema ini kembali datang. kapal yang mengudara itu, aku takut tidak bisa menemukannya. haruskah aku menemuinya dan singgah ke rumahnya yang baru itu. ataukah aku tidak harus menemuinya? kita akan lihat pada akhir desember ini. aku akan datang diam diam dengan harapan kosong. tak ingin lagi mengusiknya tapi juga ingin membuatnya merasakan sakit seperti yang selalu dia berikan pada saat akhirnya dia memilih rumah barunya.


